Adiwiyata Menuju Sekolah Peduli dan Berbudaya

Kamis, 01 Februari 2018 - 00:10 WIB
Diposting oleh: Administrator

Berbagai bencana yang terjadi selain disebabkan oleh alam banyak pula yang disebabkan oleh ulah manusia yang tidak bertanggung jawab. Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya tidak segan-segan manusia mengeksploitasi lingkungan secara berlebihan. Laju ekstraksi sumber daya alam dan hayati jauh lebih besar dari pada laju sumber daya alam memperbaharui diri. Kementerian Kehutanan mencatat luas hutan di Indonesia menyusut setiap tahun. Hal ini terjadi akibat pembakaran hutan, illegal logging dan alih fungsi hutan yang terus meningkat. Hingga tahun 2009 kerusakan hutan mencapai lebih dari 1,08 juta hektar per tahun (Sri Lestari, 2010 diakses dari http://www. bbc.co.uk/indonesia/berita_indonesia/). Kecepatan kerusakan hutan ini tidak sebanding dengan usaha dan kemampuan untuk mengembalikan lahan rusak dengan menanam pohon yang hanya sebesar 0,5 juta hektar per tahun (Amir Sarifudin, 2010 diakses dari http://news.okezone.com/).

Kerusakan lingkungan hidup sebagian besar disebabkan oleh ulah manusia. Perilaku hidup manusia yang lalai, egois dan tidak bertanggung jawab dalam mengeksploitasi lingkungannya termasuk sering diabaikannya kepentingan pelestarian lingkungan hidup di tingkat pengambil keputusan menandakan adanya masalah degradasi moral. Moral yang buruk mengakibatkan kondisi lingkungan hidup semakin kritis dan akhirnya merugikan manusia itu sendiri. Permasalahan lingkungan hidup tidak dapat dipisahkan secara teknis semata, namun yang lebih penting adalah pemecahan yang dapat mengubah mental serta kesadaraan akan pengelolaan lingkungan. Untuk mengatasi dampak kerusakan lingkungan hidup diperlukan suatu perubahan sikap dan perilaku pada masyarakat serta perbaikan moral melalui pendidikan.

Pendidikan sangat mempengaruhi perkembangan fisik, daya jiwa (akal, rasa dan kehendak), sosial dan moralitas manusia serta merupakan alat terpenting untuk menjaga diri dan memelihara nilai-nilai positif. Tentunya dengan pengaruh yang ditimbulkan pendidikan ini memberikan dampak pada bertambahnya pengetahuan dan keterampilan serta akan menolong dalam pembentukan sikap yang positif. Pendidikan memberikan peluang kepada masyarakat untuk melakukan suatu tindakan atau pengalaman yang mempengaruhi pertumbuhan atau perkembangan jiwa, watak, atau kemampuan fisik mereka melalui lembaga-lembaga pendidikan yang dengan sengaja mentransformasikan warisan budayanya, yaitu pengetahuan, nilai-nilai dan keterampilan-keterampilan dari generasi ke generasi. Semua pihak diharapkan dapat turut serta melakukan penyelamatan dan pelestarian lingkungan hidup dengan mengembangkan sikap, bentuk-bentuk perilaku, kemampuan sosial dan kemampuan individu yang mencintai lingkungan. Pendidikan lingkungan hidup di sekolah merupakan salah satu dari penerapan pendidikan karakter.

Pendidikan karakter dan pendidikan lingkungan hidup menanamkan nilai-nilai karakter kepada warga sekolah yang meliputi pengetahuan (kognitif), kesadaran atau kemauan (afektif), dan tindakan (psikomotor) untuk melaksanakan nilai-nilai tersebut. Di Indonesia, tujuan mulia dari pendidikan lingkungan hidup ini ternyata tidak sesuai dengan yang diharapkan. Tahun 1977 LIPI membentuk Tim Pendidikan Nasional yang terdiri dari Tim untuk Pendidikan Formal (Prof. Dr. Soedjiran Resosudarmo) dan Tim untuk Pendidikan Nonformal (Dr. Setiati Sastrapraja). Pada tahun 1982 dilakukan uji coba terhadap 15 SD negeri/swasta serta Pelaksanaan Program Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH) melalui proyek perintis SD, SMP, SMA. Namun, uji coba ini mengalami kegagalan karena belum menjangkau semua guru, kurangnya buku untuk guru dan murid serta penilaian pengembangan affective domain belum merupakan bagian dari sistem penilaian hasil pendidikan di sekolah.

Untuk menyikapi masalah tersebut dan untuk meningkatkan pengetahuan dan pemahaman lingkungan hidup kepada peserta didik dan masyarakat, maka tanggal 3 Juni 2005 ditandatangani Kesepakatan Bersama antara Menteri Negara Lingkungan Hidup dengan Menteri Pendidikan Nasional. Berdasarkan kesepakatan tersebut, maka pendidikan lingkungan harus berdasarkan konsep dasar makna lingkungan hidup. Untuk merealisasikan kesepakatan ini maka tanggal 21 Februari 2006 dicanangkan program Adiwiyata. Program Adiwiyata ini adalah sebagai salah satu strategi pemberian pendidikan lingkungan yang dilakukan pemerintah dengan maksud agar tercipta sekolah yang peduli dan berbudaya lingkungan.

Peserta Program Adiwiyata tahun 2013, dari target 10% sekolah yang ada atau sebesar 22.000 sekolah di tingkat SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA serta sekolah kejuruan, hanya terdapat 4.132 sekolah yang berpartisipasi sebagai peserta atau hanya sebesar 1,87% dari sekolah yang ada. Sedangkan target sekolah yang meraih penghargaan adiwiyata pada tahun 2013 adalah 1.260, sedangkan sekolah yang meraih penghargaan adiwiyata sebesar 593 sekolah atau sebesar 47,06% realisasi dari target tersebut. Program adiwiyata ini merupakan program yang sangat potensi menumbuhkan kesadaran mengenai perlindungan lingkungan hidup. Adiwiyata sangat memiliki dampak terhadap sekolah yang mendapatkan gelar adiwiyata tersebut,diantara lain adalah ;

• Sekolah dapat Lebih berperan aktif dalam menciptakan kawasan yang peduli dengan lingkungan

• Sekolah bisa menciptakan siswa - siswa yang sadar akan lingkungan

• Sekolah bisa berperan dalam semua kegiatan dalam rangka mengurangi global warming

• Sekolah bisa menjadi sarana penyalur pendidikan lingkungan secara praktek langsung Bukan hanya Sekolah , siswa pun juga mendapatkan dampak yang positif karena program ini seperti :

  1. Siswa dapat membiasakan agar membuang sampah pada tempatnya

  2. Siswa dapat mengerti pentingnya memilah - milah sampah

  3. Siswa dapat mengerti bahwa barang bekas bukan hanya untuk dibuang tapi juga dapat dimanfaatkan.

Untuk menuju sekolah Adiwiyata yang berbudaya dan berwawasan lingkungan, terdapat beberapa langkah-langkah yang harus disiapkan yang melibatkan berbagai stakeholder, baik dari tingkat pemerintah, sekolah hingga masyarakat sekitar sekolah. Berikut beberapa langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk menuju Sekolah Adiwiyata yang berbudaya dan berwawasan lingkungan :

a. Kebijakan Pemerintah Kabupaten/Kota dengan mensosialisasikan Program Adiwiyata Perlu adanya sosialisasi dari Pemerintah Daerah kepada kepada sekolah-sekolah supaya sekolah tersebut menjalankan program Adiwiyata. Tidak hanya berhenti disitu saja selanjutnya Pemda memantau pelaksanaan program Adiwiyata di sekolah-sekolah tersebut dan memberian penghargaan kepada sekolah yang telah menjalankan Program Adiwiyata, karena dengan memberikan pengharhaan dapat memberikan semangat kepada sekolah lain untuk mendapatkan penghargaan juga. Dengan adanya Program Adiwiyata di sekolah-sekolah diharapkan anak bangsa menjadi berbudaya dan berwawasan lingkungan.

b. Antusias Sekolah/Kepala Sekolah untuk Melaksanakan Program Adiwiyata yang Tinggi Dalam pelaksanaan program Adiwiyata ini diperlukan kemauan dan semangat yang tinggi dari Kepala Sekolah. Tugas Kepala Sekolah adalah mencari dana atau anggaran untuk berjalannya program Adiwiyata dan mengawasi berjalannya program tersebut. Kepala sekolah memberikan motivasi kepada warga sekolah untuk menjalankan Program Adiwiyata kemudian memberikan penghargaan kepada warganya yang telah berhasil menjalankan program tersebut, sehingga warga yang diberi penghargaan akan menjadi lebih semangat dan memberikan motivasi kepada warga yang lainnya untuk mendapatkan penghargaan juga. Sehingga warga sekolah berlomba-lomba dalam melaksanakan kegiatan yang ada didalam Program Adiwiyata.

c. Terdapat Guru yang Khusus Menangani Program Adiwiyata Beberapa hal yang harus lakukan bagi guru yang khusus menangani Program Adiwiyata untuk melaksanakan program Adiwiyata (Anonimus, 2010), yaitu:

1) Membentuk Tim Sekolah Tim sekolah adalah tim yang berperan penting dalam pelaksanaan pengolaan lingkungan di sekolah, termasuk bagaimana melibatkan semua unsur warga sekolah menjadi penting termasuk keterlibatan aktif dari seluruh siswa. Partisipasi siswa menjadi elemen penting. Untuk mensukseskan sekolah berbudaya dan berwawasan lingkungan perlu dibentuk tim yang anggotanya antara lain terdiri atas: - Kepala Sekolah - Guru - Siswa - Orangtua Siswa - Warga Sekolah (petugas kebersihan, petugas tata usaha, pengelola kantin) - Pemerintah daerah (lurah, camat dan lain-lain) - Masyarakat disekitar sekolah Tim inti terdiri atas kepala sekolah, guru yang ditambah orang tua murid dan masyarakat sekitar. Anggota inti ini melakukan pertemuan secara teratur. Anggota tim ini kemudian menugaskan kelompok kerja yang lebih kecil untuk melaksanakan tugas harian. Kelompok kecil ini dapat mengikutsertakan siswa.

2) Kajian Lingkungan Kajian lingkungan sekolah berbudaya dan berwawasan lingkungan dirancang untuk memberikan gambaran kondisi sekolah. Hasil kajian lingkungan akan menginformasikan Rencana Aksi apa yang akan dilakukan. Selain itu, kajian lingkungan juga akan membantu sekolah untuk menentukan perubahan apa diperlukan, mendesak atau tidak dibutuhkan sama sekali. Ini juga akan membantu menetapkan sasaran yang realistis serta mengukur keberhasilan yang dicapai. Kajian lingkungan oleh tim disekolah mencakup berbagai isu lingkungan sekolah, misalnya: - Sampah - Air - Energi - Makanan dan kantin sekolah - Keanekaragaman hayati Kesemua isu ini harus diamati selama kajian lingkungan dilakukan dengan menggunakan instrumen checklist. Checklist berisi serangkaian jawaban ”ya atau tidak”. Namun juga terdapat kolom untuk menuliskan komentar yang kemudian dapat digunakan untuk menambah informasi dalam penyusunan Rencana Aksi Sekolah berbudaya dan berwawasan lingkungan. Yang perlu untuk diperhatikan adalah, bahwa setiap sekolah harus melakukan kajian lingkungan sesuai dengan kondisi sekolah dan dengan cara yang terbaik yang dapat dilakukan. Libatkan peserta didik sebanyak mungkin. Kajian lingkungan dilakukan pada kurun waktu tertentu, misalnya dilakukan tahunan atau dua tahun sekali sesuai dengan kebutuhan masing-masing. Hal tersebut dilakukan untuk mengukur dan mengevaluasi kemajuan kinerja tim sekolah.

3) Rencana Aksi Rencana aksi menjadi inti dari program sekolah yang berbudaya dan berwawasan lingkungan. Perencanaan ini adalah serangkaian kegiatan dan sasaran yang dijadwalkan. Perencanaan ini juga akan menjadi bahan evaluasi untuk perbaikan lingkungan sebagai hasil dari kajian lingkungan yang telah dilakukan. Seperti halnya dengan setiap tahapan dari proses Sekolah berbudaya dan berwawasan lingkungan, siswa harus terlibat dalam menyusun Rencana Aksi sekolah. Rencana aksi harus dikembangkan berdasarkan hasil kajian lingkungan yang telah dilakukan sebelumnya. Kegiatan disusun dengan tujuan yang jelas, tenggat waktu yang jelas, dan juga penanggung jawab kegiatan yang jelas. Hal tersebut dilakuan untuk setiap tahapan kegiatan yang akan dilakukan. Selain itu, yang penting untuk dilakukan adalah berbagai kegiatan yang akan dilakukan dengan melibatkan siswa sedapat mungkin dikaitkan dengan kurikulum sebagai suatu bagian dari proses pembelajaran. Dalam penyusunan rencana aksi yang juga perlu diperhatikan adalah pastikan bahwa sasaran yang ditetapkan realistis sesuai dengan potensi dan sumber daya yang dimiliki dan dapat dicapai. Jangan terlalu ambisius sehingga sulit mencapai sasaran karena kegagalan dalam memenuhi target dapat berakibat menurunkan motivasi. Jika hasil dari kajian lingkungan mengharuskan bahwa sekolah perlu membuat banyak sasaran yang ingin dicapai, jangan diselesaikan semuanya sekaligus. Sebaiknya membuat suatu skala prioritas kegiatan. Prioritas kegiatan dapat dilakukan dengan membagi sasaran ke dalam rencana jangka pendek, menengah dan jangka panjang.

Beberapa hal yang perlu untuk diperhatikan dalam membuat perencaan aksi di sekolah adalah sebagai berikut:

- Penyusunan rencana aksi berangkat dari hasil kajian lingkungan yang telah dilakukan oleh tim lingkungan sekolah. Pilihlah topik yang sesuai dengan prioritas kebutuhan sekolah dengan mempertimbangkan kemampuan dan tenggat waktu yang dimiliki. Misalnya, sekolah ingin mengatasi permasalahan sampah sebagai kegiatan utama. Maka semua sumberdaya yang dimiliki sekolah diarahkan untuk mengatasi permasalahan tersebut. Dan jika ada bagian yang tidak mampu diselesaikan oleh sekolah, maka perlu dicari cara bagaimana sekolah bekerja sama dengan pihak lain agar dapat mengatasinya. Misalnya bekerjasama dengan dinas kebersihan dalam mengangkut sampah ke TPA. - Menetapkan bagaimana cara mengukur tingkat keberhasilan dalam mencapai tujuan. Siapkan instrumen yang dapat mengukur setiap capaian program yang telah ditetapkan. Misalnya jika anda ingin mengatasi konsumsi energi, pengukuran dapat dilakukan dengan cara mengamati tagihan listrik setiap bulannya.

- Mendiiskusikan jangka waktu untuk setiap aktivitas. Apakah kegiatan tersebut akan dicapai dalam jangka pendek, menengah atau jangka panjang.

- Menetapkan siapa yang akan menjadi penangggung jawab setiap kegiatan. Sedapat mungkin kegiatan harus melibatkan siswa.

- Melakukan monitoring terhadap alokasi dana yang dibelanjakan untuk setiap aktivitas yang dilakukan.

4) Monitoring dan Evaluasi Untuk mengetahui apakah tim sekolah berhasil mencapai target yang tercantum dalam Rencana Aksi atau tidak, maka harus dilakukan pemantauan dan mengukur kemajuan yang diharapkan. Proses monitoring terus menerus akan membantu memastikan bahwa kegiatan ini tetap berkelanjutan. Metode monitoring yang digunakan akan tergantung pada sasaran dan kriteria pengukuran yang telah ditetapkan di dalam Rencana Aksi untuk setiap topik. Dalam beberapa kasus akan ada cara mudah dan akurat untuk mengukur kemajuan, antara lain:

• Melakukan pembacaan meter dan perhitungan tagihan energi untuk melihat perubahan kegiatan penghematan energi.

• Menimbang sampah yang terkumpul untuk didaur ulang. Penimbangan ini dilakukan untuk melihat sejauh mana pengaruh kegiatan pengelolaan sampah.

• Mendokumentasikan setiap tahap kegiatan sebelum, selama dan setelah foto-foto untuk membandingkan perubahan yang terjadi di sekolah.

• Membuat daftar spesies (jika memungkinkan) sebelum dan setelah kegiatan untuk melihat pengaruh untuk menunjukkan dampak kegiatan terhadap keanekaragaman hayati di sekitar sekolah.

• Menggunakan kuesioner dan survei untuk mengumpulkan data kemajuan kegiatan dengan melibatkan siswa.

• Tim sekolah juga harus memastikan bahwa:

  - Hasil pemantauan diumumkan ke warga sekolah, misalnya dalam bentuk grafik.

  - Kemajuan kegiatan diumumkan di papan pengumuman Sekolah.

5) Partisipasi Warga Sekolah Salah satu cara terbaik untuk melibatkan warga sekolah adalah untuk mengatur kegiatan rutin dan hari-hari tertentu yang dianggap penting (action day). Pada waktu tertentu Hari Aksi adalah kesempatan bagi semua warga di sekolah murid, guru dan staf lain serta pihak yang berkepentingan dari masyarakat setempat, untuk bersama-sama mencapai beberapa target yang ditetapkan dalam Rencana Aksi. Hari Aksi perlu terencana, baik dalam hal mengalokasikan tanggung jawab dan memastikan bahwa semua orang tahu tentang mereka. Action day penting, tetapi kegiatan rutin juga sangat penting. Kegiatan seperti daur ulang, penghematan energi dan air hanya berhasil jika semua orang yang terlibat. Melibatkan masyarakat luas dalam sekolah adiwiyata sangat bermanfaat. Orang tua siswa, masyarakat sekitar, dan pemerintah lokal dan dunia usaha dapat menjadi referensi untuk memeperkaya informasi, pelatihan atau membantu membiayai kegiatan. Melibatkan masyarakat dan media masa untuk memperluas penyebaran informasi misalnya dengan membuat newsletter, press release ke media lokal, dan sebagainya.

d. Adanya Dana untuk Melaksanakan Program Adiwiyata. Tersedianya anggaran dana Program Adiwiyata dari pemerintah sangat diperlukan untuk terlaksananya Program Adiwiyata ini, karena untuk menjalankan Program Adiwiyata membutuhkan dana yang cukup besar. Dukungan atau suntikan dana dari pemerintah sangat diperlukan untuk berjalannya Program Adiwiyata ini.

e. Partisipasi Masyarakat sekitar untuk Melaksanakan Program Adiwiyata. Keikutsertaan masyarakat dalam melaksanakan Program Adiwiyata sangat diperlukan dalam berjalannya Program Adiwiyata. Kegiatan seperti mendaur ulang, penghematan energi dan air akan berhasil jika semua orang terlibat. Sehingga masyarakat sekitar sekolah secara tidak langsung menggerakkan upaya pelestarian dan keselamatan lingkungan untuk kepentingan generasi sekarang dan yang akan datang.

 

oleh : Ade Masya Resa, ST